Ben kamu nie gimana sih? Jangan suka maenin perasaan cewek dong! Kalo udah sama Tita, Vira, temannya jangan diincer juga dong,” kata Dika sewot.
Ruben menghela napas panjaaang sekali, kayak rel kereta api lho,,,
” Oke,,oke aku ngaku sekarang. Sebenernya aku tuh sayang sama Vira…..”
Dika sobat karibnya Ruben. Dika dan Ruben tinggal sekamar dikos-kosan khusus cowok. Mereka juga 1 sekolah, tapi nggak sekelas.
Dika memandang Ruben, “ Kamu nggak boleh gitu dong, kasian si Tita nya. Ngapain juga kamu ngasih harapan ke Tita kalo ternyata kamu masih sayang sama Vira?”
“Bukannya nggak cinta, aku sendiri nggak tau, cinta sama Tita atau nggak. Terus terang , aku kasian sama Tita, kalo sampe putus. Kayaknya dia cinta banget sama aku….”
“Wah..wah, ternyata kamu lebih kejam dari aku, Ben. Biarpun aku nih playboy cap ikan bandeng, nggak pernah tuh aku pura-pura cinta sama cewek supaya dia nggak kecewa!” cemooh Dika.
“ Iya, biasanya emang cewek yang pura-pura cinta sama kamu, biar kamu nggak bunuh diri!”
“ Sialan Lo! Dasar cumi,”
Sementara itu di kamarnya Vira, Tita lagi asyik baca majalah. Ceritanya Tita lagi main di rumahnya Vira.
“Vir, kadang-kadang aku ngiri deh sama kamu….”
“Hah,,,iri? Adanya juga aku yang ngiri sama kamu..kamu tuh kan cantik, pintar, tajir, ketua cheers lagi. Kayaknya kebalik deh kalo kamu ngiri sama aku.”
“ Tapi kamu punya cowok yang sayang sama kamu, Vir, si Liam!”
Vira mengernyitkan alis,” Lho, kamu kan juga punya si Ruben?”
Tita menggeleng sedih, “ Aku nggak yakin Ruben tulus sayang sama aku, kayaknya dia suka sama kamu, Vir.”
“Ah..kamu jangan berprasangka yang nggak-nggak dong!”
“Aku ngerasain sendiri dan aku nggak berprasangka,”
Suasana hening sejenak, setengah menggumam Tita berujar lagi, ”Mama kemarin nawarin aku buat ngelanjutin sekolah ke Australia. Aku bingung,juga sedih ninggalin temen-temen di sini apalagi kamu dan Ruben. Tapi mungkin Ruben pasti malah lega karena nggak harus mencintai cewek kayak aku lagi.”
Vira terharu, menatap sahabatnya.
“Ta, jangan ngomong gitu dong. Tapi…apa bener kamu mau sekolah di Australia?”
Tita mengangguk.
“Wah…kalo gitu aku nitip beliin baju di Sydney dong atau ini deh boneka koala juga boleh…”
“Hah…..????” Tita bengong.
* * *
Malamnya Ruben sradak-sruduk terus di ranjangnya. Dika yang tidurnya di tingkat atas jelas terganggu. “Kamu bisulan ya, Ben? Diem dikit napa, aku kan mau tidur, kayak ada gempa tektonik tau ga?”
“Aku nggak tau tuh! Ka, bantuin aku dong, mau kan?”
Dika melongokkan kepalanya ke ranjang bawah, ”Bantu apa? Ngomong putus sama Tita? Kenapa nggak kamu aja yang ngomong langsung ke dia? Ya udah, besok kamu telpon Tita, bilang kalo kamu mau ngomong 4 mata sama dia. Penting! Kan beres,” Dika langsung menarik kepalanya lagi dan siap-siap mau tidur.
Ruben pun berusaha memejamkan matanya. Tak lama kemudian terdengar dengkur Dika, sekarang gantian Ruben yang terganggu, ia berusaha menutup kedua telinganya dengan bantal. Tapi dengkurnya Dika tetap terdengar. Ruben kesal dan ia menendang ranjang atas. Giliran Dika yang terkejut setengah mati sampai melompat dan…gedebuk!
* * *
Setelah mandi, Tita lalu memakai baju seragamnya. Pas lagi ngiket tali sepatunya, tiba-tiba telepon di kamarnya berdering.
“Halo? Eh, Ruben, tumben pagi-pagi udah nelpon. Apa? Pulang sekolah kamu mau ketemu sama aku di kantin? Oke deh, ntar aku ke sana. Daaggg….” Tita lalu menutup teleponnya lalu mengambil tasnya dan melangkah riang keluar kamar.
* * *
Seperti janjinya, pulang sekolah Tita langsung ke kantin sekolahnya. Ruben datang ditemani Dika dan Dika langsung duduk agak jauh dari Ruben dan Tita. Tita duduk di depan Ruben, mereka berhadapan dengan wajah tegang. Masing-masing nggak ada yang memulai ngomong, sampai akhirnya mereka malah ngomong berbarengan.
“Ben…”
“Ta….”
Tita malu,”Kamu duluan deh, Ben. Mau ngomong apa?”
“Kamu duluan aja Ta…” Ruben nggak tegaan.
Tita ragu, diam sejenak, ”Begini Ben…eh,tapi nggak sebaiknya kamu duluan aja yang ngomong? Omonganku nggak penting kok.”
“No, Ta. Lady first. Come on…..”
“Oke…oke…aku cuman mau bilang kalau aku harus pergi ke Australia sama Bokap-Nyokap, nyusul kakakku yang udah duluan kuliah di sana. Abis di sini kayaknya aku nggak punya masa depan….dan nggak ada yang sayang aku.”
Ruben langsung ngerasa nggak enak. “Hei siapa bilang nggak ada yang sayang sama kamu?”
“Ruben kamu emang baek. Tapi kamu harus jujur, pasti dalam hatimu, kamu terpaksa cinta and sayang sama aku. Aku nggak sakit hati kok kalo kamu ternyata nggak sedih aku mau pergi.”
“Ta, please jangan ngomong gitu..siapa bilang aku nggak sedih?”
“Kamu nggak usah menghibur aku deh, Ben. Aku tau kok kamu nggak cinta sama aku. Aku tau, cinta sejatimu cuma buat Vira. Iya kan?”
Air mata Tita mulai mengalir. Ruben jelas bingung. Ia memandang kearah Dika. Dika cuma bengong, karena nggak tau apa yang mereka omongin. Dika pikir, Ruben udah bilang putus sama Tita dan Tita nangis.
”Ta, jangan ngomong gitu dong. Aku sayang kok sama kamu.”
Terus terang, waktu Tita bilang mau pergi, Ruben malah berbalik sayang banget sama Tita dan takut kehilangan cewek ini.
Tita lalu mengusap air matanya. “Oh ya, kamu mau ngomong apa? Katanya ada hal penting yang kamu Mau omongin.”
Ruben jadi gelagapan, dia sungguh-sungguh nggak siap mau mutusin Tita dalam kondisi seperti ini. Tanpa diminta, Dika datang dan ikut nimbrung tanpa tau duduk persoalannya. Langsung aja nyerocos.
“Ta, aku tau emang berat menerima kenyataan ini. Tapi, Ruben itu sampe nggak nggak bisa tidur semaleman cuma mau ngomong putus sama kamu. Kamu jangan nangis dong. Lagian aku masih kosong kok…”
Ruben melotot pada Dika, Tita juga kaget.
“Oh, jadi kamu emang mau mutusin aku gitu?” Tita bangkit, lalu pergi sambil menangis. Dika kaget, Ruben bangkit dan langsung mninju perut Dika.
Sore harinya, saat hujan turun dengan derasnya…….
“Iya Ben, aku kan udah minta maaf, masa aku kudu cium kaki kamu yang bau jahe itu dulu?”
“Ah….kamu emang brengsek! Ngomong nggak tau sikonnya!” maki Ruben.
“Ya, itung-itung juga aku udah bantuin kamu ngomong putus sama dia.”
Ruben menggeleng, ”Nggak Ka…setelah dia bilang mau cabut ke Australia, aku jadi ngerasa amat kehilangan. Aku sadar selama ini aku sudah menyia-nyiakan cintanya Tita, dan sekarang aku baru sadar kalo aku sayang banget sama dia, maannn!”
“Ben, sini aku kasih tau, perasaanmu itu wajar kok. Coba aja kalo Tita nggak pergi, pasti kamu masih benci sama dia. Jadi sekarang kamu nyesel?”
“Iya,aku pengen dia tau kalo aku sayang sama dia, tapi gimana caranya?”
“Ehm…gimana kalo kamu cuciin aja baju-bajunya yang mau dia bawa ke Australia?”
“Dasar sinting lo! Ngasik saran yang bener dong!!”
“Abis apaan dong? Gini aja supaya Tita tau kamu merhatiin dia, gimana kalo kamu telpon dia tiap 2 jam sekali.”
“Yang ada aku malah tekor! Kamu pikir interlokal ke sana murah apa?”
Ketika Dika mau ngasih usul 1 lagi, Ruben langsung memotong, ”Cukup!! Aku nggak mau denger lagi. Mendingan aku mikir sendiri….”
Ruben berpikir serius dan Dika nggak berani ganggu lagi. Saat petir menggelegar Ruben langsung dapat ide, membuat Dika yang lagi ngupil jadi kaget setengah mati.
Malam itu Vira lagi menginap di rumahnya Tita dalam rangka menjelang keberangkatannya Tita ke Australia. Sementara itu di luar, masih terdengar derail hujan disertai petir yang menggelegar.
“Ta, kapan-kapan boleh nggak aku maen-maen ke sana?”
“Boleh…boleh…nanti akomodasinya aku yang tanggung deh.”
“Asik…!!” Vira jejingkrakkan. “Eh tapi kok kelihatannya kamu nggak seneng sih mau ke luar negri? Masih sedih mikirin Ruben ya? Udah..jangan sedih, aku aja rela putus sama Liam kalo harus sekolah di luar negeri.”
“Iya Vir…kok selama ini aku mencintai orang yang salah ya? Aku pengen deh punya cowok yang ujan-ujan begini mau dateng kesini sambil membawa bunga.” Tita berjalan ke jendela kamarnya, lalu memandang keluar. Tapi belum sempat pikirannya mengkhayal lebih jauh, tiba-tiba ia melihat sosok di luar. Tita kaget dan menajamkan penglihatannya, ada satu cowok membawa bunga dan satunya lagi sibuk megangin payung di bawah derasnya hujan. Vira bangkit dan ikutan melongok ke jendela.
“Eh…itu kan si Ruben sama Dika?”
Tita buru-buru berlari keluar disusul oleh Vira. Begitu melihat Tita, Ruben langsung berlari menghampiri, meninggalkan Dika dengan payungnya. Dibawah rinai hujan merekapun berpelukan.
“Tita…..I Really Love You…” Ruben menyerahkan bunganya.
“Oh…Ruben..it’s so sweet…”
Tita dan Ruben lalu perpelukan lagi bak Romeo dan Juliet sedangkan Vira dan Dika tersenyum bahagia memandang sahabat mereka.
CLOCK
calender
Blog Archive
23.39
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar